Makan

Bubur Stasiun Cakung, Kuliner yang Harus Dicoba.

bubur Stasiun Cakung

Bubur 1
Bubur stasiun cakung

Bicara soal kuliner kaki lima seperti Bubur Stasiun Cakung. Kalian Suka makan bubur diaduk? Atau tidak diaduk? Saya sering melihat kata-kata ini di media sosial, entah di Instagram atau Facebook atau pun media sosial lainya. Terkadang, bubur identik dengan makanan orang sakit, bagaimaimana tidak, saat sakit tenggorokan kita akan susah menelan makanan akibat efek tidak nafsu makan.

Suka Makan Bubu Cara Apa?

Bicara soal bubur, saya sendiri suka makan bubur diaduk karena semua bumbu yang tercampur akan meresap pada makanan yang lembek-lembek ini. Bubur sendiri sering disebut-sebut dalam sebuah pepatah penyesalan yaitu: “Nasi sudah menjadi bubur”, menurut saya pepatah ini bisa disanggah dengan “walau nasi sudah menjadi bubur, tinggal tambah kecap, daun bawang seledri, juga suwiran ayam, agar dapat dinikmati”.

Jadi, dari penyesalan tersebut kita dapat mengambil himah dari suatu kejadian. Dan bubur sendiri juga terdapat pada lagu dangdut, yang dinyanyikan  oleh Alam yang terkenal denga lagu Mbah Dukunya. Yaitu sabu-sabu (sarapan bubur) yah, lirik yang unik dari lagu ini menjelaskan sabu-sabu yang dimaksud adalah sarapan bubur seperti lirik di bawah ini, yang saya ambil dari sumber ( https://carapedia.com/lirik/alam/sabu-sabu-1070l.html )

Pagi-pagi sabu, tiap hari nyabu…

Enak enak enak rasanya…

Pagi-pagi sabu, tiap hari nyabu…

Enak rasanya…

 Di kampung, di kota, di mana pun ada…

Mudah didapat… Syeach  !

Sabu… Sabu (4x), garis miring

Sarapan bubur!

Makanan bubur sendiri biasanya dijual pada pagi hari, biasanya banyak gerobak bubur keliling kampung atau komplek untuk menjajakan daganganya. Ada juga beberapa kios yang menjual bubur, seperti di dekat Stasiun Cakung. Ya, kios bubur di dekat Stasiun Cakung atau teman-teman saya sering menyebutnya dengan kata burcuk ini sudah ada sejak saya masih sekolah SD.

Kios Bubur Stasiun Cakung

Namun, saya baru sekali mencobanya beberapa waktu yang lalu, bertempat di sisi pintu keluar Stasiun Cakung samping Masjid Nurul Ikhsan ini mulai buka dari jam 17.00 sampai malam hari, setiap saya lewat tempat ini selalu ramai oleh pengunjung yang datang. Biasanya mereka yang habis pulang dari kantor atau kampus menaiki commuter line mampir ke tempat ini.

Baca juga: Nasi Jamblaang Bu Nur

Beberapa watu yang lalu, saya pulang dari kantor menaiki commuter line dalam kondisi hujan. Beruntung sesampainya di tujuan hujan sudah berangsur reda tetapi, perut sudah meronta-ronta dan akhirnya saya putuskan untuk mampir ke tempat makan ini. Tidak berbeda dengan sajian bubur lainya, satu porsi bubur lengkap disajikan dengan 1 piring sate yang berjumlah 8 buah.

Bubur 2
Bubur stasiun cakung 2

Harga 1 Porsi Bubur Stasiun Cakung

Ada sate usus, hati, juga telur, untuk kecap kita bisa memilih sendiri di meja makan yang tersedia. Mau kecap asin atau manis sudah tersedia di tempat meja makan. Untuk harga sendiri, kalian bisa siapkan kocek sebesar Rp.15000. Kalian sudah bisa menikmati 1 porsi bubur ayam ini. Jangan datang terlalu malam, karena selalu ramai pangunjung  kios bubur ini biasanya jam 9 malam sudah tutup.

Untuk rasa juga tidak kalah dengan bubur pada umumnya, karena buka mulai sore menjelang malam, kita menyantapnya sebagai makan malam akan terasa nikmat. Apalagi saat musim hujan dan kita butuh makanan hangat, makanan yang satu ini sangat cocok untuk menemani santap malam kalian. Tempatnya mudah dijangkau karena berada di depan Stasiun, bubur ini sangat pas dinikmati saat pulang dari berpergian.

Tags
Show More

Related Articles

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close