GunungPerjalanan

Gunung Papandayan, Mahal Gak Sih?

Gunung Papandayan

Pendakian Gunung Papandayan ini kami lakukan pada bulan Oktober 2018 yang lalu. Tepatnya di tanggal 5, 6, dan 7, total yang mengikuti pendakian Gunung Papandayan ini berjumlah 11 orang. 5 orang laki-laki dan 6 orang perempuan, banyak cerita seru loh selama pendakian yang sukses kami lakukan selama di Papandayan, yuk ah gak usah berlama-lama.

Akhir bulan Juli 2018 yang lalu, Ricky atau yang biasa saya panggil Cen mengajak saya untuk mendaki ke Gunung Papandayan. Gunung Papandayan salah satu Gunung yang terletak di Jawa Barat ini adalah salah satu Gunung yang masuk dalam list yang wajib saya kunjungi.

Hutan mati dan tracking-nya yang lumayan mudah untuk pendaki pemula, menjadi daya tarik sendiri untuk mendaki Gunung ini. Setelah berdiskusi panjang x lebar x tinggi = lega, dengan Cen melalui WhatsApp, akhirnya saya menyetujui tawaran dari Cen.

Rencana Awal Pendakian Gunung Papandayan

Awalnya Cen mengajak mendaki di pertengahan bulan September 2018 tetapi, saya sudah memiliki jadwal untuk mendaki Gunung Slamet. Dan saya mengusulkan pendakian dilakukan pada awal bulan Oktober saja, lalu Cen pun mengiyakan. Akhirnya kami (saya dan Cen) menentukan berapa banyak orang yang ikut dalam satu tim, budget, serta transportasi dsb.

Satu bulan sebelum keberangkatan saya mencoba untuk mengajak tim yang akan mendaki ke Slamet. Namun karena waktunya berdekatan dan mungkin Gunung ini kurang menarik untuk mereka. Akhinya  tidak ada satu pun yang mau ikut ajakan saya ke Papandayan.

Yang membuat saya bersemangat sekali ke Papandayan, selain penasaran dengan Gunung yang katanya teman saya Gunung manja. Adalah si dia yang akan ikut dan pertama kali mendaki bersama saya. Jadi ekspektasi saya dalam mendaki gunung ini sangat besar uwuwuwuwuwuwuwuwuw josssss.

Oh ya, ketika saya ingin mendaki Papandayan pun banyak komentar negatif dari beberapa teman mengenai Gunung ini. Terutama soal sikmasi yang sangat mahal dan menjadi sorotan beberapa teman yang pernah mendaki Gunung ini. “Ngapain lu ke Papandayan, itu Gunung mahal banget tau” ujar beberapa teman.

Ditambah lagi banyak BABI liar di area camp membuat sedikit angan-angan mulus saya ke Papandayan sedikit terganggu. Namun saya tetap yakin dan melanjutkan pendakian ini, ya atas dasar penasaran antara alam Papandayan dan mendaki bersama dia yang membuat saya tetap bertekad untu mendaki Papandayan.

Baca Juga : Pendakian Merbabu Musim Panas 2018.

Hari Keberangkatan Menuju Pendakian Papandayan.

Hari H pun tiba, setelah mendapatkan tim dan membahas segala macam persiapan pendakian di grup WhatsApp. Kami berjanjian untuk meeting point  di Pool Bus Primajasa yang ada di Cawang. Meeting point sekitar jam 20.00 wib, seperti halnya orang Indonesia kebanyakan. Kami semua baru berkumpul sekitar 21.30 hahaha sangat ngaret yah.

Saat di Cawang saya bertemu dengan teman satu grup di Backpacker Jakarta 22 yang ternyata mempunyai tujuan yang sama yaitu ke Garut. Namun teman-teman BPJ 22 tidak akan ke Papandayan melainkan ke Gunung Cikuray. Dan pastinya rombongan BPJ 22 lebih banyak pesertanya daripada kami.

Dari Cawang, kami berangkat berjumlah sembilan orang yaitu saya, Cen, Merri, Novi, Emi, Regi, Dheren, Putra, dan Gerrard. Sedangkan dua orang lagi yaitu Nawal menunggu di pintu tol Cileunyi juga Kak Ros yang menunggu di Garut. Setelah semua berkumpul di Cawang kami mulai menuju Bus jurusan Garut untuk menaruh tas cerrier di bagasi.

Kurang lebih jam 22.00 bus kami mulai beranjak dari Jakarta menuju Garut, kemacetan menjadi pemandangan yang melepas kepergian kami. Untuk mensiasati kebosanan di perjalanan, tentunya saya meminum antimo. Supaya di perjalanan bisa tidur pulas sehingga tidak terasa duduk lama di Bus hehehe.

Beberapa jam perjalanan akhirnya bus keluar dari pintu tol Cileunyi, dan bertemu satu anggota kami (Nawal) yang sedari tadi sudah menunggu di pintu tol Cileunyi. Kesan pertama saya bertemu dengan Nawal adalah biasa saja hahaha, bagaimana tidak. Saya yang baru sadar kalau Bus kami sudah di Cileunyi dan bertemu Nawal pun saya masih dalam setengah sadar karena efek dari antimo.

Baca Juga : Gunung Andong dan Pesona Alamnya yang Indah

Sampai di Garut

Bus mulai beranjak dari Cileunyi yang artinya sedikit lagi kami sampai tempat tujuan. Pemberhentian kami adalah pom bensin Leles, dari sana kami akan dijemput untuk diantar sampai ke Base Camp. Tidak terasa kami sampai di pom bensin, selanjutnya sembari menunggu mobil jemputan kami beristirahat di musala pom bensin.

Mungkin kurang lebih satu jam kami menunggu mobil jemputan, dan selama satu jam tersebut kami manfaatkan untuk istirahat tidur. Meskipun hanya sebentar menunggu, tetapi menfaatkan waktu istirahat sangatlah penting. Apalagi kami masih harus menempuh 2 jam perjalan untuk sampai ke Base Camp pendakian. Udara Garut di luar ruangan sangatlah dingin, ditambah kami tiba di pom bensin ini sekitar jam 1 / 2 dini hari.

Jemputan pun tiba, ini benar-benar di luar ekspektasi saya, saya pikir kami akan dijemput oleh mobil tertutup tetapi jeng jeeengggg. Yang datang adalah mobil bak terbuka. Setelah membereskan cerrier di atas mobil, kami langsung menuju Base Camp. Namun sebelum menuju Base Camp, kami menjemput Kak Ros terlebih dahulu di tempat yang sudah ditentukan.

Akhirnya tim kami lengkap dan mobil bak terbuka melaju kencang menuju Base Camp. Kecepatan mobil yang lumayan membuat kami menggigil, bayangkan saja. Naik mobil bak terbuka di dataran tinggi pada waktu dini hari membuat sekujur bulu kuduk goyang-goyang. Dan saya yang hanya memakai jaket tipis merasakan mengigil sepanjang perjalanan.

Baca Juga : Pendakian Gunung Prau Insiden di Jalur Dieng

Tiba di Base Camp Gunung Papandayan

Gunung papandayan, hutan mati, garut, simaksi mahal
Dok : Pribadi

Setelah dua jam menahan dinginnya hawa ketinggian daerah Garut, sekitar jam 4 subuh kami sampai di Base Camp pendakian. Kami bergegas istirahat di warung sambil menghangatkan diri di depan api-apian. Selanjutnya saya dan beberapa kawan salat subuh lalu istirahat kembali sebelum melanjutkan pendakian.

Usai istirahat, sarapan, mandi, dan juga packing ulang, jam 10.00 wib kami memulai pendakian. Diawalai dengan berdoa di depan gerbang Papandayan meminta kepada-Nya agar pendakian kami berjalan lancar. Tidak lupa satu hal wajib yaitu foto-foto di gerbang pendakian, setelahnya kami mulai berjalan perlahan.

Baca Juga : Pendakian Gunung Slamet via Jalur Bambangan

Pendakian dimulai Gunung Papandayan

Formasi tim dibagi menjadi Cen sebagai Leader, Regi tim tengah, sedangkan saya tim sapu bersih alias yang jalan paling belakang. Panas terik dan bau belerang menemani selama di perjalanan. Sekitar kurang lebih 30 menit kami melipir di warung yang ada di tengah perjalanan. Isitirahat sejenak sambil menikmati buah semangka dan sekadar memulihkan tenaga.

Gunung papandayan, hutan mati, garut, simaksi mahal
Photo by : Dayu Anggoro

Perjalanan dilanjutkan, kini track mulai  menurun dan melewati sungai-sungai kecil. Namun tetap dengan panas terik yang menyengat, selain karena jarangnya pohon yang lebat. Bulan Oktober ini belum benar-benar masuk musim penghujan. Usai melewati sungai-sungai kecil track mulai terjal dan sedikit menguras tenaga.

Gunung papandayan, hutan mati, garut, simaksi mahal
Dok : pribadi

Jalan dengan kontur tanah tidak begitu menyulitkan ketika kami bertemu dengan track yang lumayan menanjak. Namun tidak lama setelah itu track landai menyambut kami. Jalan dengan bebatuan sedikit memberatkan langkah, dan benar saja, jalan berbatu membuat si Dheren kakinya keseleo.

Gunung papandayan, hutan mati, garut, simaksi mahal
Dok : pribadi

Perjalanan kami hentikan sejenak untuk memulihkan kondisi Dheren yang kakinya keseleo. Kami kembali istirahat sebentar untuk menemani Dheren dan memulihkan kakinya. Sembari istirahat, tetap saja eksistensi beberapa kawan untuk berswafoto tidak hilang hehehe lanjut yuk.

Baca Juga : Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Travelling

Tiba di Pos Goober Hoot Gunung Papandayan

Dengan jalan yang santai dan mayoritas dari kami sudah beberapa kali mendaki. Sekitar jam 2 siang kami tiba di Pos Goober Hoot, untuk istirahat sejenak sekaligus melakukan ibadah salat zuhur. Dari Goober Hoot, perjalanan untuk sampai ke pos terakhir sudah sangat dekat.

Lagi-lagi, di tengah perjalanan menuju pos terakhir tempat kami akan mendirikan tenda yaitu Pondok Saladah. Bang Gerrard terjatuh di tengah jalan sementara tim yang lain sudah di depan. Untungnya, saya yang berjalan paling belakang bisa menemani Bang Gerrard yang kakinya keseleo juga. Saat saya dan Bang Gerrard beristirahat, kami dihampiri oleh Pendaki yang sudah ibu-ibu.

Beliau memberikan obat air jahe untuk Bang Gerrard, ah memang benar adanya. Di gunung tidak ada senior dan junior, yang ada hanyalah pendaki yang ketika kesusahan akan saling tolong menolong. Setelah Bang Gerrard pulih, saya yang bertanggung jawab dengan Cen dalam pendakian ini. Tidak tega melihat Bang Gerrard kesusahan untuk mencapai pos terakhir.

Akhirnya cerrier Bang Gerrard yang berukuran 50L saya bawakan dan dia saya suruh jalan duluan untuk menemui rombongan. Lumayan juga si, saya membawa cerrier dipunggung ukuran 55+5L dan juga punya Bang Gerrard di posisi depan dengan ukuran 50L. Pengalaman yang tidak terlupakan tetapi menyenangkan karena saya bisa membantu tim agar pendakian berjalan lancar.

Baca Juga : Youvit dan Kuliner Lokal Sehat

Tiba di Tempat Camp, Pondok Saladah Gunung Papandayan

Sekitar jam 3 sore kami semua sudah tiba di Pondok Saladah, camp terakhir di Papandayan dan mendirikan tenda. Tenda berdiri, artinya kami harus ganti baju yang sudah lembab agar tidak kedinginan saat malam. Lalu dilanjut dengan membongkar logistik untuk dimasak saat makan malam. Selain itu sebagian dari kami mandi di toilet, lah ya ternyata ini loh yang dibilang Gunung manja.

Toilet untuk mandi di Papandayan sangat terawat dan bersih, saya kira sepadan dengan simaksi yang mahal. Begitu pun di Gunung ini tidak banyak sampah yang saya temui seperti Gunung-Gunung yang sebelumnya pernah saya daki. Mungkin juga karena dikelola pihak swasta menjadikan tiket masuk dan berkemah di Papandayan menjadi mahal.

Rencana kami akan mampir ke hutan mati sebelum magrib tiba tetapi, ah karena sudah banyak yang mager dan asik masak-masak rencana menjadi batal. Akhirnya kami di tenda saja sambil berbincang dan mengenal lebih dekat satu sama lain. Di bawah flysheet yang mengelilingi tenda kami memasak logistik yang sudah di bongkar lalu selanjutnya makan malam bersama.

Gunung papandayan, hutan mati, garut, simaksi mahal
Dok : Pribadi

Menjelang Istirahat Malam Hari

Malam pun makin larut, saya dan Cen merapikan kembali alat masak dan sisa logistic serta sampah agar area tenda kami bersih. Hal ini dilakukan agar tidak mengundang Omen atau si Babi Papandayan mampir ke tenda. Dan satu per satu dari kami mulai istirahat masuk ke tenda untuk tidur. Karena esok pagi kami ingin melihat sunrise dari sisi lain Papandayan.

Sementara saya masih belum bisa tidur dan deg-degkan karena si dia sudah benar-benar berada di dekat saya. Antara mengungkapkan atau tidak membuat pikiran saya kacau. Namun sudah tanggung bertemu dan mendaki bersama entah kesambet atau apa saya menghampiri Nawal dan berkata sambal gerogi setengah mati.

“Nawal, kita pacaran yah?” ungkap saya dengan nada rendah agar tidak menggangu atau terdengar oleh orang lain. Anggukkan dari Nawal pertanda dia memberikan jawaban iya. Rasa lega pun muncul seketika, lalu saya ingat kalau esok hari kami akan melewati tempat bunga edelwiess tumbuh ah senangnya. Seperti sebuah quote yang banyak diapakai oleh pendaki “Jangan Bawakan Edelweiss Ke Orang yang Kamu Cinta, Tapi Bawalah Dia ke Tempat Bunga Itu Tumbuh”.

Yeah misi selesai, rasanya seperti habis makan permen nano-nano yang manis, asem, asin, rasanya ramai. Usai kejadian meneganggakan tersebut saya baru bisa memejamkan mata. Saya bisa tertidur pulas dengan rasa lega dan tanpa penyesalan.

Persiapan Ke  Spot Sunrise

Dering alarm telpon berbunyi yang artinya subuh sudah menjelang, saya membangunkan teman-teman dan juga Nawal tentunya. Untuk mengajak salat subuh di musala yang terletak tidak jauh dari tenda. Usai salat subuh berjamaah kami langsung memasak air dan mengeluarkan cemilan untuk membuat teh/susu/kopi.

Menyiapkan tenaga untuk melihat sunrise di dekat camp Goober Hoot, menghangatkan badan disaat Susana pagi masih dingin. Saat hari mulai sedikit terang kami mulai berjalan ke tempat spot sunrise Papandayan. Saat tiba di spot sunrise sayang sekali kabut enggan pergi, tetapi ya sudah lah. Biapun masih berkabut, tetap saja semangat untuk berfoto tidak hilang, terbukti kami masih bisa narsis dengan ceria.

Gunung papandayan, hutan mati, garut, simaksi mahal

Selesai dari spot sunrise kami kembali ke tenda untuk memasak sarapan pagi sebelum packing ulang dan turun ke bawah. Menu spaghetti serta sayur kacang, sawi, tempe goring, nugget, dan masih banyak lagi berhasil mengisi ulang tenaga kami. Setelah sarapan dan bongkar tenda serta packing ulang, kami bersiap untuk turun ke bawah.

Menuju Hutan Mati Papandayan

 

Gunung papandayan, hutan mati, garut, simaksi mahal
Di Pondok Saladah

Berdoa dan berswafoto menjadi ritual terakhir sebelum meninggalkan Pondok Saladah. Perjalanan pun dimulai, kami tidak langsung turun ke bawah tetapi singgah terlebih dahulu di hutan mati. Sesampainya di hutan mati Papandayan kami beristirahat sejenak, membuat kopi dan mengeluarkan cemilan sisa untuk dinikmati.

Gunung papandayan, hutan mati, garut, simaksi mahal
Menuju hutan mati di padang edelweiss.

Gunung papandayan, hutan mati, garut, simaksi mahal

Hari semakin terik, akhirnya kami langsung bergegas untuk sampai ke Base Camp. Sebelum sampai ke Base Camp, kami mampir di warung yang pertama kali kami singgahi saat memulai pendakian. Buah semangka menjadi favorit untuk disantap.

Pulaaannnggg

Saat sampai di Base Camp kami langsung packing ulang dan mandi sekaligus makan siang. Tidak lama setelah itu jemputan datang, tidak lagi mobil bak terbuka melainkan mobil pribadi biasa. Kami diantar tidak ke terminal melainkan Pool Bus Primajasa yang ada di Garut. Kak Ros memisahkan diri setelah sampai di Pool Bus. Sedangkan kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta, dan akhirnya Nawal juga memisahkan diri saat sampai di Pintu tol Cileunyi. Kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta dan pulang ke rumah masing-masing.

Sekali lagi, mendaki gunung membrikan saya pelajaran tolong-menolong, kesabaran, kekompakkan dalam bekerjasama. Juga mensyukuri apa yang kita punya saat ini, dan Papandayan banyak memberikan saya kesan yang indah dan tak terlupakan.

~Terima kasih

Tags
Show More

Related Articles

49 Comments

  1. Wahaaaaaaaaaa, pendaki sejati 😀 ku mencermati betul-betul tulisan ini karena ada rencana saya bakal ke Papandayan wgwgw 😀

    Terimakasih banyak ya, btw, ceritanya. Menarik dan membantu heheh 😀

    Dan satu lagi…

    CIYEE SELAMAT CIYEEE JADIAN CIYEE WGWGW 😀

  2. Dayyy SEMANGKA seger batz itu Dayyy!!!

    Eh SIMAKSI Papandayan berapaan sih cuy sekarang? Itungannya perhari atau per malam? *Harga saat kemarin lo nanjak?

    Betewe di awal kalimat loe sering make “dan”,”lalu”,”namun”, klo nda salah itu biasanya buat di tengah kalimat bukan ya Day?
    #ahaha #komenDoankNulisKagak ✌

  3. Saya yang sudah 4 kali batal ke papandayan karena beberapa alasan, sangat ‘terhibur’ dengan tulisan Abang Dayu. Serasa ikut nanjak bareng dan jadi saksi jadiannya Kakak Nawal dengan bangdayudotcom. Untuk kenangan seindah ini, simaksi mah ndak mahal ya Bang… ehm

  4. Kalau baca cerita orang tentang naik gunung, ikutan seneng sekaligus deg-degan. Kayaknya enak banget lihat eidelweis secara langsung, ya. Terus menikmati Hutan Mati. Sayangnya belum ada niatan untuk ikutan naik gunung. Cuma kepengen doang, males realisasiinnya 😀

  5. “Nawal, kita pacaran yah?” ungkap saya dengan nada rendah agar tidak menggangu atau terdengar oleh orang lain. Anggukkan dari Nawal pertanda dia memberikan jawaban iya. Rasa lega pun muncul seketika, lalu saya ingat kalau esok hari kami akan melewati tempat bunga edelwiess tumbuh ah senangnya. Seperti sebuah quote yang banyak diapakai oleh pendaki “Jangan Bawakan Edelweiss Ke Orang yang Kamu Cinta, Tapi Bawalah Dia ke Tempat Bunga Itu Tumbuh”.

    ===
    Ahhh… saya suka sekali alinea ini. Papandayan menjadi saksi cinta kita. Pencitraan bawain keril orang pun sukses.. wkwkwk

  6. Berarti sebenarnya ke Papandayan worth it lah ya dengan haraga simaksi yang “katanya mahal”. Apalagi bisa membawa si “dia” ke tempat tumbuhnya “Bunga Abadi”

  7. Ecie jadian di Papandayaan.. abis nembak langsung pules ya day boboknya..
    Sejak simaksi papandayan 65 rebu memang gunungnya jadi nggak banyak orang. Itu jg kayaknya yang bikin sampahnya nggak banyak

  8. Sebagai member geng Ciye,, aku mau ciyeein aah.. Ciyeee Dayuu… ahahaha.. Romantis banget sih di Gunung Papandayan.. Lihat pengalaman mendaki ini, rasanya bisa memaksa diri untuk naik gunung ke sini, wkwkw. Semoga lah bisa nyampai sana suatu saat.

  9. Seketika teringat sepatu gw yang ilang di papandayan bang, pdhl udah dimasukin kedlam tenda…. si omen juga, malam2 ngendua tenda lagi…. wkwkkwk

  10. Day! Ya Allah gue ngakak bacanya.

    Untuk diterima yak, jadi naik gunungnya berkesan, kalau enggak amsyong dah yak. Mendaki Papandayan bersama pacar eaa eeaa.

    Si pacar tau ga nih, ceritanya diabadikan. Semoga lnggeng ya.

  11. Eciee gue salah fokus sama prosesi nembak Nawal. Haha
    Simaksinya emang mahal tapi perawatan gunung Papandayan jadi lebih baik sih. Ga adaa sampah, toilet dan mushola ok, jalur treking tertata. Cuma kezelnya ada motor aja sih masuk area gunung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close