PuisiUncategorized

PADA AKHIRNYA

 


Manisku

Aku memang tak seindah dahulu
Memanjakanmu dengan belaian syahdu atau sajak yang merayu
Bahkan untaian lagu yang dapat membuatmu sembuh dari hunusan sembilu
Kata rindu yang dulu sering kita ungkapkan
Kini tak pernah lagi tertuang dalam sebuah balas pesan
Saat bait-bait jahanam yang mulai kau lontarkan
Atau sulut api kekecewaan yang kau keluarkan
Membuat semuanya menjadi getir, bahkan anyir
Mungkin adakalanya kita sejenak menengok seperti awal mula cerita
Dari canggungnya pesan yang disampaikan melalu gawai
Sampai tertawa malu saat bertukar suara melalui udara
Apakah kau masih ingat saat dimana kita pertama kali mengucapkan selamat pagi, siang, sore, dan malam
Dengan penuh harap setiap pesan yang kita kirim akan berbalas
Dan saat itu pun rasa cemas terbayar lunas
Juga waktu pertama kali kita jumpa, engkau tersipu malu saat memandangku
Setiap kata ataupun hal bodoh yang kita lakukan semua menjadi lucu
Ingatlah manisku
Ah, mungkin rasanya kini semua telah tiada
Dan pada waktunya semua akan tiba
Ketika jiwa kita yang terbelenggu oleh dekapan mesra
Atau hati yang terpenjara dalam ikatan rasa
Merindukan indahnya makna kebebasan
Memerlukan arti dari sebuah kesendirian
Seperti burung yang lepas dari jerat sangkar
Terbang menuju langit-langit tanpa ada jeruji pagar
Menari-nari di atas altar
Mengumandangkan kemerdekaan dengan penuh rasa sadar

 

Tags
Show More

62 thoughts on “PADA AKHIRNYA”

  1. "Juga waktu pertama kali kita jumpa engkau tersipu malu saat memandangku"

    Sukaaaaaa syekali bagian ini.

    Benar kata Leni, setelah jumpa dikasih koma (,) aja, biar sesuai sama yang kamu maksud.
    Setelah bait ini, aku sebel, sedih bacanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close