GunungPerjalanan

Pendakian Gunung Slamet via Jalur Bambangan

Drama Sebelum Mendaki

Sepertinya sudah agak lama saya tidak menulis tentang pendakian gunung. Dikarenakan kesibukan dan juga uts di kampus beberapa waktu yang lalu. Membuat saya harus menanahan diri untuk menulis cerita tentang pendakian. Dan sekarang saya akan menceritakan pendakian gunung Slamet via Bambangan pada pertengahan bulan September 2018.

Rencana Awal Pendakian

Pada awalnya, gunung Slamet bukanlah gunung tujuan saya dan teman-teman untuk dikunjungi. Berawal ketika kami baru turun dari gunung Merbabu, beberapa kawan ada yang berpendapat. “Bagaimana kalau selanjutnya kita melakukan pendakian ke gunung Lawu, sepertinya seru”. Ujar beberapa kawan ketika kami hendak pulang ke Jakarta.

Dan beberapa dari kami setuju untuk selanjutnya mendaki ke gunung Lawu, apalagi mereka semua belum pernah ke sana. Kecuali saya, yang sudah pernah ke gunung Lawu dan menceritakan bagaimana indahnya sabana di sana. Jika ingin melihat sabana yang indah di gunung Lawu. kita harus melakukan pendakian dari jalur Candi Cetho, karena dari jalur inilah terdapat sabana yang indah dan luas.

Akhir bulan Juli setelah kami melakukan pendakian gunung Merbabu, rencana untuk ke gunung Lawu mulai disusun. Awalnya kami merencanakan untuk berangkat dari tanggal 8 September dan pulang tanggal 9. Namun karena saya bentrok dengan Family Gathring dari kantor, saya mencoba usul untuk berangkat 1 minggu setelahnya.

Merencanakan Ke Gunung Lawu

Sempat terjadi perdebatan di dalam grup WA tetapi, akhirnya mereka setuju dengan usulan saya. Apalagi karena faktor saya yang sudah pernah ke Lawu menjadi alasan kuat mereka setuju untuk diganti tanggal. Fix, kami merencanakan untuk berangkat ke pendakian gunung Lawu. Segala macam persiapan dan perencanaan mulai dibahas di grup.

Awal bulan Agustus saya dan Fine selaku cp di dalam pendakian ini mulai memesan tiket Pasar Senen – Solo Jebres pp. Karena kami ingin mendaki ke Lawu, jadi kami harus menaiki kereta yang menuju Stasiun Solo Jebres. Dari sana, saya dan Fine sudah memesan mobil jemputan ke Base Camp Candi Cetho (Jawa Tengah) untuk berangkat nanjak. Dan turun kami dijemput di Base Camp Cemoro Sewu (Jawa Timur).

Rencana kami adalah mendaki lintas jalur, saya berulang kali mengingatkan kepada teman-teman yang ada di grup agar mempersiapkan fisik dan mental secara matang. Karena jalur Candi Cetho ini termasuk jalur terpanjang yang ada di gunung Lawu. Untuk waktu normalnya saja, jika ingin dapat camp di pos Hargo Dalem harus menempuh perjalanan sekitar kurang lebih 8-10 jam.

Ditambah banyaknya cerita yang beredar bahwa gunung Lawu sering dipakai untuk acara malam 1 suro, dan jalur Candi Cetho ini salah satu yang katanya paling seram. Kalau menurut saya yang sudah pernah ke sana si biasa saja, asal niat kita mendaki tidak merusak lingkungan. Dan juga kita bisa sopan dan menjaga sikap saat di gunung mana pun kita berada, maka tidak akan terjadi apa-apa.

Baca juga : Gunung Andong dan Pesona Alamnya yang Indah

Pendakian Gunung Merbabu

Pendakian Gunung Prau

Cobaan Part 1

Okey lanjut ke cerita, sekitar menjelang akhir bulan Agustus kami mendapat berita kurang bagus. Gunung Lawu kebakaran yang tentunya membuat kami dag dig dug ser karena akan mendaki ke sana. Kebakaran di gunung Lawu menjelang keberangkatan kami pun tidak hanya sekali. Yang saya ingat, menjelang keberangkatan kami tercata Lawu sudah kebakaran sebanyak tiga kali.

Akhirnya kami merencanakan opsi kedua yaitu mendaki gunung Sumbing. Opsi kedua ini ketika kami turun dari Solo Jebres akan melanjutkan perjalanan ke Kutoarjo dengan menaiki KA Prameks. Tentunya kami naik KA tersebut dari Stasiun Solo Balapan dengan dibantu salah satu teman kami yang dari Solo. Nawal namanya, dia yang ada di grup kami yang tinggal di Solo sementara waktu.

Dia akan membantu mengurus tiket kami ke Kutoarjo untuk mendaki gunung Sumbing via Kaliangkrik, jika kami gagal mendaki gunung Lawu. Nawal juga adalah teman saya yang kelak akan pacar saya dikemudian hari hahahaha. Mungkin akan saya ceritakan di pendakian selnjutanya bersama dia. Lanjut ke cerita lagi, opsi kedua sudah dibuat tanpa membatalkan tiket dan cuti.

Cobaan Part 2

Awal bulan September lagi-lagi kami kembali mendapat kabar buruk, selain gunung Lawu yang sabananya terbakar. Gunung Sumbing pun juga ikut kebakaran akibat musim panas yang panjang. Galau tentu, kami semua galau untuk melanjutkan pendakian ini atau tidak. Karena tidak ada harapan lagi untuk mencari opsi lainnya.

Lalu salah satu teman kami ada yang mengeluarkan ide untuk mendaki gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di pulau Jawa. Saya awalnya ragu untuk mendaki ke sini. Selain tinggi, mendaki gunung Slamet juga harus membutuhkan persiapan yang harus matang. Namun saya berpikir kembali, ah, rasanya setiap pendakian harus mempunyai persiapan yang sangat matang.

Akhirnya satu grup sepakat untuk membuat opsi ketiga yaitu melakukan pendakian ke gunung Slamet. Dengan menggunakan tiket kereta yang sudah ada, yaitu tiket Pasar Senen – Solo Jebres pp. Rencana awal kami turun di Stasiun Tegal dengan melewati jalur Guci. Namun menurut info yang beredar, jalur Guci masih sepi dan rawan tersesat.

Apalagi ditambah kami belum pernah ada yang mendaki ke gunung Slamet via jalur Guci, karena tidak ingin mengambil risiko yang tinggi. Akhirnya kami semua sepakat dan memutuskan untuk melakukan pendakian melalui jalur yang umumnya dilewati oleh banyak pendaki. Jalur Bambangan adalah opsi terbaik kami untuk mendaki gunung Slamet, dan akhirnya perjalanan kami dimulai.

Pendakian Gunung Slamet Dimulai

Dengan segala drama yang terjadi sebelum pendakian seperti, si Fine kuku kakinya copot. Dan hampir tidak bisa ikut karena mau ada pelatihan di kantornya. Namun semua bisa terselasaikan satu persatu masalah tersebut. Kami meeting point di Stasiun Pasar Senen pukul 16.00. Satu jam sebelum keberangkatan KA Brantas, dan kami akan turun di Stasiun Tegal.

Setelah semua berkumpul, kami menaiki kereta KA Brantas untuk selanjutnya turun di Stasiun Tegal. Lima jam perjalanan yang kami lalui dengan bercanda, berfoto, dan berbincang satu samalain. Sekitar pukul 21.30an kami tiba di Tegal, kami langsung menghubungi mobil jemputan untuk langsung ke Base Camp Bambangan. Perjalanan dari Tegal ke Base Camp Bambangan menempuh waktu dua jam.

Pendakian gunung slamet 6
Di Stasiun Tegal

Kami berangkat dari Stasiun Tegal sekitar pukul 22.00 dan sampai di Base Camp pukul 12 malam. Ketika keluar dari mobil, udara dingin langsung menusuk ke dalam tubuh. Di dalam Base Camp sudah banyak pendaki yang beristirahat, dan kami pun langsung mencari lapak untuk langsung istirahat dan tidur.

Pagi pun datang, kami mulai bangun untuk packing ulang dan mengantri mandi sebelum start mendaki. Namun masalah kembali muncul, mendaki gunung Slamet ternyata harus memakai surat keterangan dokter. Kami yang tidak tahu informasi tersebut dan katanya, peraturan membawa surat dokter adalah peraturan baru. Namun, setelah berkoordinasi dengan pihak Base Camp yang menjemput kami.

Akhirnya masalah ini dapat terselesaikan, dan kami tetap bisa mendaki gunung Slamet. Untungnya di dalam grup kami tidak ada yang mempunyai penyakit bawaan yang dapat kambuh sewaktu-waktu. Dan untungnya lagi, tim semuanya dalam keadaan prima serta kondisi badan sehat untuk mulai melakukan pendakian gunung Slamet.

Menuju Pos 1 Pendakian Gunung Slamet

Pendakian gunung slamet 6
DI Gerbang Bambangan

Kami mulai berdoa sebelum melakukan pendakian, meminta kepada Tuhan agar diberi kelancaran saat mendaki. Perjalanan dimulai, kami berangkat dari Base Camp pukul 08.30 menuju pos 1. Perjalanan belum banyak pohon serta tempat terbuka membuat badan cepat berkeringat. Ditambah sinar matahari yang menyengat, menemani kami selama di perjalanan.

Kami tiba di pos 1 sekitar pukul 10.15, sejenak membeli buah semangka di warung pos 1 untuk menyegarkan tubuh. Perjalanan dilanjut menuju pos 2, hutan lebat mulai menyambut kami yang membuat sedikit lebih adem. Dan jalur pun masih tetap menanjak dari Base Camp hingga ke tempat ini. Pukul 10.30 kami berangkat dari pos 1 menuju pos 2.

Menuju Pos 2 Pendakian Gunung Slamet

Tidak ada hambatan untuk jalan menuju pos 2 selain vegetasi yang mulai rapat. Menambah tenaga kami karena dari Base Camp sampai pos 1 panas sinar matahari terasa menyengat. Pukul 12.00 kami tiba di pos 2 dan istirahat sejenak untuk menunaikan ibadah salat zuhur. Goreng pisang dan semangka menjadi cemilan yang kami beli di pos 2 untuk menambah tenaga.

Menuju Pos 3 Pendakian Gunung Slamet

Setelah 40 menit beristirahat, jam 12.40 kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Jalan semakin menanjak dan tidak adanya bonus (jalan landai) terus menguras tenaga kami. Sedikit-sedikit kami istirahat untuk menambah tenaga, lambat laun kecepatan irama jalan kami terus berkurang. Dan jarak antara tim mulai terasa.

Pendakian gunung slamet 6
Makan siang di pos 3

Jam 14.00 kami tiba di pos 3, udara mulai terasa dingin dan untungnya ada warung yang terdapat perapian. Kami memesan minuman hangat serta tidak lupa membuka perbekalan makan siang untuk tim kami. Kami mulai beristirahat makan siang dengan bekal yang sudah kami siapkan dari Base Camp. Lauk ala kadarnya terasa nikmat ketika disantap bersama-sama.

Menuju Pos 4 Samarantu (Samar-Samar Berhantu)

Pendakian gunung slamet 6

Pukul 14.40 kami melanjutkan perjalanan, udara yang semakin dingin membuat kami harus banyak bergerak. Jalanan masih berkontur tanah dengan kemiringan yang tambah curam harus kami hadapi. Untungnya cuaca cerah jadi kami tidak perlu khawatir. Musim panas yang berkpanjangan menimbulkan debu di sepanjang jalur, dan pukul 15.30. Kami sampai di pos 4 gunung Slamet, yaitu pos Samarantu.

Saya tidak ingin berlama-lama untuk istirahat di tempat ini, pos yang lebih banyak pohon tumbang ini membuat saya tidak betah. Alasannya, pos 4 Samarantu adalah pos paling angker di gunung Slamet via Bambangan. Dikalangan para pendaki, pos ini yang paling dihindari untuk berkemah. Karena Samarantu artinya adalah samar-samar berhantu atau samar-samar banyak hantu.

Sudah banyak kejadian mistis dan aneh yang dialami pendaki ketika melewati pos ini. Kebanyakan yang diganggu adalah pendaki yang melewati pos ini pada malam hari. Untung saja kami melakukan perjalanan masih terang, jadi kami aman untuk melewati pos yang katanya paling angker di gunung Slamet via Bambangan.

Menuju Pos 5 – 7 Pendakian Gunung Slamet

Hanya 3 menit kami istirahat dan kami melanjutkan perjalanan menuju pos 5. Pukul 15.33 perjalanan kami mulai kembali, samar-samar puncak Slamet sudah mulai terlihat sedikit ketika kami jalan ke pos 5. Tidak ada kendala yang kami temui selama perjalanan menuju pos 5. Pukul 16.06 kami tiba di pos 5. Karena hari masih terang, kami cuma beristirahat 10 menit untuk mengisi tenaga.

Pukul 16.16 kami mulai melanjutkan kembali perjalanan, dengan sisa tenaga yang ada. Kami menargetkan tiba di pos 7 tempat camp terakhir sebelum gelap tiba. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, kami bablas pos 6 dan akhirnya tiba di pos 7. Kami di tempat camp pukul 17.30, total 9 jam perjalanan untuk tiba di pos 7. Selanjutnya kami mendirikan tenda dan masak makan malam lalu beristirahat untuk summit attack dini hari nanti.

Summit Attack Puncak Slamet

Pukul 3 pagi kami mulai bangun untuk persiapan summit, kami mulai memasak air untuk membuat minuman hangat. Serta memasak sup yang sayurannya sudah dipotong-potong dari malam hari. Setelah semuannya siap, pukul 03.30 kami memulai perjalanan summit attack ke puncak Slamet. Dimulai dengan doa pastinya kami mulai perjalanan perlahan.

Udara yang sangat dingin membuat kami hanya sesekali beristirahat untuk minum. Vegetasi yang mulai terbuka dan jalan yang mulai berpasir menyambut kami. Saat melewati pos 9 Pelawangan, mulailah tidak ada vegetasi sama sekali. Hanya jalan menanjak dan berpasir ditambah banyak bebatuan yang kami lalui. Seperti halnya summit di Semeru, summit ke puncak Slamet pun berpasir. Tetapi tidak sekejam sewaktu saya summit ke puncak Semeru.

Di tengah perjalanan mata hari mulai muncul dari kejauhan, kami menikmati sunrise di tengah perjalanan sebelum sampai puncak. Kami berhenti sejenak untuk menikmati ke indahan sunrise dan indahnya bias-bias merah dari mentari yang muncul. Sesudah melihat sunrise kami melanjutkan perjalanan, jalur yang semakin berbatu dan curam menjadi tantangan.

Tiba di Puncak Slamet

Pendakian gunung slamet 6
Di Puncak Slamet

Pukul 06.30 kami semua sampai dengan selamat di atap Jawa Tengah puncak gunung Slamet. Puncak tertinggi nomor 2 di pulau Jawa berhasil kami raih, bukanlah Slamet yang kami taklukan. Melainkan ego diri sendiri lah yang kami taklukan di puncak gunung. Kami bersyukur mencapai puncak dengan kekompakan dan kerja sama tim yang solid.

Pendakian gunung slamet 6
Di puncak slamet

Di puncak kami mulai membuka perbekalan yang kami bawa dan makan cemilan bersama. Lalu mampir ke pinggir kawah gunung Slamet dan tidak lupa menikmati lautan awan dari puncak Slamet. Puas menikmati puncak, kami mulai turun kembali ke pos 7 tempat camp untuk memasak dan makan. Selanjutnya, kami packing ulang dan pukul 12.30 kami sudah beranjak untuk turun ke Base Camp.

Kembali Turun Ke Base Camp Bambangan

Kurang lebih 5 jam perjalanan saya dan teman-teman untuk sampai ke Base Camp. Untuk perjalanan turun, karena jalan berdebu kami sering terpleset. Karena jalan yang licin serta tenaga yang terkuras, kami gampang sekali terpleset. Tiba di Base Camp kami packing ulang kembali dan saya tidak lupa untuk mandi serta menguras semua isi perut hehehe.

Malam hari kami kembali menuju Stasiun Tegal untuk selanjutnya kembali pulang ke Jakarta. Seperti halnya buku yang saya baca yaitu Soe Hok Gie: Sekali Lagi, gunung Slamet memang benar gunung yang membosankan. Selain tidak adanya bonus landai, gunung Slamet ini adalah salah satu gunung yang membuat saya kapok. Jika diajak mendaki ke Slamet lagi, saya harus berpikir berulangkali untuk kembali ke sana.

Rincian waktu pendakian gunung Slamet :

  • Base Camp ke Pos 1: 1Jam 45Menit
  • Pos 1 ke Pos 2 : 1Jam 30Menit
  • Pos 2 ke Pos 3 : 1Jam 20Menit
  • Pos 3 ke Pos 4 : 50Menit
  • Pos 4 ke Pos 5 : 33Menit
  • Pos 5 ke Pos 6 : 27Menit
  • Pos 6 ke Pos 7 : 45Menit
  • Pos 7 ke Puncak Slamet : 2Jam
  • Pos 7 ke Base Camp : 5Jam (tergantung kecepatan masing-masing orang)

~Terima kasih

Tags
Show More

Related Articles

33 Comments

  1. Saya baru tahu kalau Pos 4 ternyata berhantu, wkwkwk.
    Waktu itu saya dan bebrrapa teman pendaki melewati pos ini malam hari dan buat saya biasa saja sih. Hanya saja lokasi plang Pos 4 memang agak tersembunyi.

  2. Samarantu? Ya ampuun..untung pas terang yak..coba pas gelap, saya bisa baca deh kisahnya di artikel ini 😀
    Tapi keren banget sih.
    Saya pernahnya ke Candi Cetho, ke Gunung Lawu ? menyisir saja tiap pulkam ke Madiun 😀
    Salut mas, berarti puncak tertinggi kedua di Jawa sudah ya..Semoga segera menyusul tertinggi pertama, Semeru!

  3. Setelah Baca catatan pendakian bang dayu ke gunung slamet yang ‘penuh’ cobaan dan drama, saya jadi bingung mesti bersyukur atau ndak ya,saya dua x gagal berangkat pas di hari H. Tapi kok penasaran ya

  4. Kamu rajin banget mendaki gunung deh. apalagi pake drama2 plus .. Saya ga sanggup.. secara anak pantai sukanya santai-santai.. kalo dipanta tuh paling dihantui kenangan mantan Hahaha..

  5. Suka kagum ama yg suka naik gunung, rasanya penemgen nyoba tapi keberanian belom ada. Tapi juara banget sih niay dan tekadnya walau udah banyak drama. Kalau saya kebanyakan drama gitu langsung melipir ke gunung agung (toko buku) hihihi

  6. Bingung mau komen apa. Soalnya setiap kali baca tulisan pengalaman orang naik gunung, di dalam hati saya cuma bilang satu hal “semoga minimal 1 kali dalam hidup gue bisa ngerasain yang namanya nge-daki gunung” aamiin 🙂

  7. Wow Slamet! Aku belum pernah mendaki gunung ini, tapi baca tulisan Bang Dayu jadi berasa ikut mendaki Slamet. Btw, suka dengan kalimat ini, “Bukanlah Slamet yang kita taklukkan, melainkan ego diri sendiri.” Mantul, Bang!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close