Pendakian GunungPerjalanan

Hiking ke Wana Wisata Batu Kuda Manglayang

Pada awal bulan Juli tahun 2026, saya dan keluarga menikmati akhir pekan dengan hiking ke Wana Wisata Batu Kuda Manglayang. Hiking kali ini terasa berbeda karena saya sama sekali tidak menggunakan kaki palsu, melainkan memakai 2 tongkat atau kruk.

Sangat berkesan sekaligus mengurasa tenaga karena tantangannya amat berbeda ketika hiking menggunakan kaki palsu. Oh ya.. saya pernah hiking menggunakan kaki palsu yang ceritanya bisa kamu baca di: Curug Cisurian Keindahan Alam di Kabupaten Kuningan

Wana Wisata Batu Kuda Manglayang sendiri terletak di daerah Cileunyi Kabupaten Bandung. Tidak jauh dari pintu toll Cileunyi ataupun dari Bundaran Cibiru. Wana Wisata Batu Kuda sendiri adalah tempat wisata favorit warga Bandung khususnya Bandung Timur.

Banyak rombongan keluarga, anak sekolah, komunitas, dsb yang berkunjung ke sini untuk berkumpul tamasya, camping, hiking, bahkan sampai trail run pun juga ada.

Persiapan Menuju Wana Wisata Batu Kuda Manglayang

Sejak pagi kami sudah mempersiapkan diri untuk wisata ke Batu Kuda, awalnya kami tidak punya rencana untuk trekking ke Batu Kuda. Karena kami hanya ingin piknik santai serta nge-grill dan menikmati suasana area hutan camping Batu Kuda saja.

Namun tiba-tiba pagi itu saya keidean untuk trekking ke Situs Batu Kuda karena sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini, hanya sampai area hutan camping saja.

Atas dasar rasa penasaran dan ide yang diterima oleh keluarga, akhirnya kami setuju untuk tidak hanya sekadar pinik cantik. Tetapi juga melakukan trekking meskipun jaraknya lumayan jauh dan menantang.

Berangkat Hiking Ke Wana Wisata Batu Kuda Manglayang

Sekitar jam 7 pagi, kami sekeluarga mulai berangkat dengan menggunakan 1 mobil dan 1 motor. Jarak tempuh dari rumah ke Wana Wisata Batu Kuda Manglayang tidak terlalu jauh, sekitar ± 20 menit saja dengan kecepatan yang amat santai.

saya selalu suka dengan pemandangan alam di sepanjang jalan menuju lokasi, serta masih ada perkampungan dengan rumah panggung tradisional khas Sunda gitu. Ditambah perkebunan di kanan-kiri serta pemandangan Kota Bandung juga beberapa kali terlihat di sepanjang jalan.

Setelah menempuh jalan yang kadang amat menanjak dan sedikit berlubang, akhirnya kami sampai di pintu masuk Wana Wisata Batu Kuda Manglayang. Di loket masuk ada beberapa kategori harga tiket untuk pengunjung seperti berikut:

  • Tiket Masuk Rp 10.000 (hari biasa) & Rp 15.000 (akhir pekan+hari libur) per orang
  • Parkir Motor Rp 5.000
  • Parkir Mobil Rp 10.000
  • Camping Rp 15.000 – Rp 25.000 per malam 

*Harga tiket masuk berdasarkan kunjungan kami di bulan Juli 2026 (dapat berubah sewaktu-waktu).

Setelah membayar tiket dan uang parkir kami langsung tancap gas ke tempat parkir untuk membawa perbekalan piknik serta persiapan trekking. Sekadar informasi saja nih, di tengah maraknya pungli wisata di daerah Jawa Barat yang viral sejak lama.

Menurut saya tempat wisata ini tidak ada pungli yang meresahkan sama sekali, dan area wisatanya pun bersih terawat dengan baik. Banyak spot tong sampah yang ditaruh pengelola wisata agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan, serta petugas kebersihan pun selalu keliling bersih-bersih.

Menarik kan????

Baca Juga:

Pertama Kali Trekking Menggunakan Dua Tongkat

Hiking ke Wana Wisata Batu Kuda Manglayang

Setelah mendapatkan spot yang cocok untuk menggelar tikar dan nge-grill after trekking, kami siap memulai perjalanan ke Batu Kuda. Tentunya ada 1 orang yang tidak ikut karena satu dan lain hal yaitu adik kami Aufa. Dia memilih untuk menunggu sambil rehat ditemani buku dan aneka macam cemilan dan makanan berat yang kami bekal dari rumah.

Jujur saja ini adalah pertama kali saya trekking dengan medan yang cukup menantang dengan menggunakan 2 tongkat tanpa kaki palsu sejak amputasi kaki kiri tahun 2020 yg lalu. Terakhir kali trekking jauh sebelum amputasi adalah di pertengahan tahun 2019 yaitu saat melakukan pendakian ke Gunung CIkuray dengan istri yang waktu itu statusnya masih jadi pacar hehe.

Kali ini saya trekkingnya tak hanya dengan istri, yaitu juga dengan kedua anak laki-laki kami serta adik, ipar, dan mamah yang juga ikut dalam perjalanan.

Tujuan Pertama Dek atau Dermaga Wana Wisata Batu Kuda Manglayang

Hiking ke Wana Wisata Batu Kuda Manglayang

Langkah pertama kami sudah disambut dengan tanjakan santai dari camping area, buat saya yang menggunakan 2 tongkat dengan 1 kaki masih terbilang sopan. Dan kedua anak kami pun masih semangat melibas tanjakan ini tanpa kendala yang berarti.

Ketika sudah hampir melewati batas vegetasi dan memasuki area terbuka, barulah tantangan yang sebenarnya datang. Tanjakan berbatu menyambut kami yang lama-kelamaan kemiringannya makin curam. Untuk saya yang menggunakan tongkat, mulai extra hati-hati dan extra fokus dalam memilih langkah.

Apalagi di ketinggian seperti ini kepala mulai sedikit pusing, tak jarang saya harus menggunakan mode ngesot karena tanjakan yang sudah tidak ramah untuk disabilitas (ya iyalah namanya juga jalur pendakian hahahaha).

Beberapa kali kami istirahat sejenak di tengah jalan sambil meneguk air mineral yang dibekal sambil melihat pemandangan hutan serta latar Kota Bandung yang amat mengagumkan. Sebelum amputasi 2020, trek seperti ini sudah menjadi hal biasa pas saya rajin naik gunung. Tapi setelah amputasi ya asli beneran bikin ngos-ngosan.

Setelah beristirahat sejenak, kami kembali melakukan perjalanan ke tujuan pertama. Dan ketika hampir sampai ke Dek saya nggak nyangka. Ternyata ada jalan berupa tangga semen yang amat rapi di sisi lain jalur, karena kemiringan jalur bebatuan ditambah tanah berdebu yang cukup licin dan sudah tidak bersahabat. Akhirnya saya memilih jalur tangga untuk melanjutkan perjalanan.

Tapi sejujurnya lewat tangga lebih capek dibanding lewat jalur tanah dan batu, tapi ya gimana lagi yah. Kondisinya sudah nggak bisa lewat situ ya akhirnya ya pilih jalan yang lebih gampang hahaha. Dan setelah ± 45 menit, akhirnya sampai juga di tujuan pertama yaitu Dek atau Dermaga Batu Kuda Gunung Manglayang. 

Sejenak kami istirahat duduk meluruskan kaki sembari mengabadikan momen dengan latar pemandangan hutan serta Kota Bandung di bawahnya. Capeknya lumayan terbayar lunas dengan suasana dan pemandangan seperti ini, jujur ya.. saya bangga dikit bisa trekking lagi pakai dua tongkat tanpa kaki palsu ke tempat seperti ini. Mantap lah pokoknya.

Lanjut part 2…

 

~Terima Kasih Sudah Membaca 😊

Dayu Anggoro

Penyandang disabilitas yang hobi jalan dan kulineran. (Follow IG & twitter @abangdayu- email dayuag16@gmail.com)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker