Perjalanan

Wara-Wiri Yogyakarta (Episode 2)

Untuk yang ketinggilan episode 1, silahkan mampir kesini Wara-Wiri Yogyakarta (Episode 1)

Kamar home stay yang kami sewa (Sumber : pegipegi.com)


Petualangan hari pertama kami di Yogyakarta dimulai. Usai mandi dan beres-beres di kamar, kami langsung menuju masjid yang ada didekat home stay untuk menunaikan ibadah salat jumat. Salat jumatpun selesai kami langsung berjalan menuju halte Trans Jogja yang tidak jauh dari home stay, dan Trans Jogja sendiri seperti Bus Way yang ada di Jakarta. Kalau tidak salah waktu itu tiketnya untuk 1 orang adalah 3000 ribu rupiah, karena masing-masing dari kami membawa e-money sehingga tidak perlu repot untuk membeli tiket.

Tidak menunggu lama di halte bus yang ditunggu datang, kami langsung menaiki Trans Jogja dengan kode 2B yaitu jurusan terminal Jombor, karena tujuan pertama adalah Candi Borobudur maka kami harus ke terminal Jombor terlebih dahulu lalu berganti bus. Perjalanan ke terminal Jombor dengan Trans Jogja menempuh waktu sekitar 30 menit, setibanya di Terminal Jombor kami langsung berpindah transportasi dan menaiki bus jurusan terminal Borobudur yang sudah tersedia.
Sumber : http://www.starjogja.com

Kami betul-betul menikmati perjalan yang penuh petualangan dan mengesankan ini, oh ya, ongkos bus ke terminal Borobudur yang harus kami bayar adalah 15 ribu rupiah untuk satu orang. Di tengah perjalanan sempat terjadi macet panjang dan lagi-lagi hal ini membuat kami khawatir jika sampai Borobudur telat karena waktu itu waktu sudah siang menjelang sore, tetapi, sang supir kemudian membelokan kemudinya untuk mencari jalan pintas, dari jalan pintas inilah rasa khawatir sedikit reda ditambah saya mendapatkan bonus pemandangan persawahaan serta bukit-bukit indah yang memanjakan mata.

Disekitar jalan yang berkelok-kelok saya melihat rumah penduduk yang sebagian besar adalah pengerajin patung, banyak patung-patung hasil karya mereka dipajang di depan rumah, begitu terpesonanya saya karena rumah pengerajin patung berada disekitar persawahan yang sedang hijau dan membelakangi bukit, sampai-sampai saya lupa untuk mengambil gambar dari handphone yang ada di saku celana.
Perjalanan sekitar kurang lebih 2 jam yang harus kami tempuh dari home stay ke Terminal Borobudur, pukul 15.30 wib akhirnya kami sampai juga, dan langsung menaiki becak motor yang ada di Terminal karena khawatir candi akan tutup. Ongkos yang harus kami keluarkan untuk menaiki becak motor ini adalah 30 ribu rupiah untuk perjalanan pulang pergi setelah beberapa kali nego harga.
Dari kiri ke kanan (Teman abang saya, saya, dan abang saya)

Beruntung candi Borobudur tutup puku 5 sore kami masih ada waktu untuk menikmati keindahan salah satu dari situs keajaiban dunia yang dimiliki Indonesia.  Puas menikmati dan menjelajahi Candi Borobudur tak lupa sambil berswapoto ria, sekitar jam 5 sore kami menuju pintu keluar dan mampir ke musola untuk salat asar dan kembali pulang. Jam 17.30 wib kami sudah berada di terminal Borobudur untuk menaiki bus terakhir tujuan terminal Jombor, Lelah seharian menempuh jarak yang cukup jauh ke Candi Borobudur dari Home Stay akhirnya kami sempat tertidur pulas di dalam bus yang berjalan menuju terminal Jombor.

Setelah sampai di terminal Jombor, kami menaiki lagi Trans Jogja jurusan Malioboro disepanjang jalan pemandangan kerlap-kerlip lampu kota menghiasi suasana Yogya yang indah dan memanjakan mata. Lelah, kami rasa tubuh kami tidak kenal Lelah untuk terus menikmati keindahan kota Yogyakarta.
Sampai di Malioboro saya mengajak Abang saya dan temanya untuk makan malam di angkringan Lik Man, angkringan ini yang saya tau cukup terkenal karena saya mendapat referensi dari internet, dan banyak yang merekomendasikan angkringan yang bertempat di samping stasiun Tugu Yogyakarta.
sumber : http://cahh-bagoes.blogspot.co.id

 

Menikmati kopi jos, dan nasi kucing, dengan duduk lesehan memulihkan tenaga kami yang terkuras seharian diperjalanan. Rasa nasi kucing dan gorengan yang saya pesan dan dibakar benar-benar nikmat, kopi jos, saya baru pertama kali menikmatinya dan menurut saya melihat kopi yang dicebur bara  ini sungguh unik.
Usai menikmati santap malam di angkringan kami berjalan-jalan sebentar di Malioboro untuk menikmati malam, lalu kembali ke home stay untuk mengistirahatkan tubuh dan memulihkan tenaga karena energi kami habis di perjalanan yang Panjang.
Sabtu pagi saya bangun lebih awal dan tentunya telat salat subuh karena saat saya lihat keluar kamar matahari sudah terik. Usai mandi serta membangunkan Abang saya dan teman-nya kami buru-buru sarapan seadanya, dan mulai menentukan rencana perjalanan selanjutnya. Destinasi selanjutnya kami sepakat untuk ke Candi Prambanan dan Ratu Boko.
Perjalanan hari kedua dimulai dari halte Trans Jogja dekat home stay, kami kembali menaiki bus ini untuk menuju ke Candi Prambanan. Trans Jogja 3A adalah bus yang kami naiki ke arah terminal Giwangan, sesampainya di terminal Giwangan kami disuruh turun oleh petugas dan pindah dengan bus yang sama yakni 3A juga berlanjut menuju halte JEC, dari halte JEC kami turun dan berganti bus Trans Jogja dengan kode nomor 1A untuk sampai ke terminal Prambanan.
Oh ya, kalian jangan sungkan untuk bertanya kepada petugas halte dan orang-orang sekitar apabila travelling ke Yogyakarta, dengan angkutan umum atau Trans Jogja. Ini sangat efektif, jika tidak mau repot berlama-lama browsing di internet untuk mencari rute destinasi yang akan dituju. Di terminal Prambanan kami sarapan di warung nasi soto karena di home stay belum sempat sarapan banyak karena tidak sempat dan mengejar waktu.
Perjalanan menuju prambanan kami hanya ngemil dengan snack sekedar mengganjal perut, dari terminal Prambanan menuju Candi hanya berjarak 800 meter dengan berjalan kaki. Cukup dekat dari pada harus menaiki andong yang banyak menawarkan kepada kami untuk ke Candi. Selain dekat berjalan kaki dan tak perlu naik andong, hal ini juga akan menghemat biaya perjalanan tentunya.

Tiket masuk Candi Prambanan :
Dewasa     : Rp.30.000,-Anak-anak : Rp.12.500,-

 

Candi Prambanan + Candi Ratu Boko : Rp.55.000,-

Rincian di atas adalah harga tiket masuk Prambanan pada waktu bulan Desember 2016 yang lalu. Kabarnya, saat ini harga tiket masuk naik sebesar Rp.10.000,- tetapi saya tidak tahu itu benar atau tidak, karena saya sudah lama tidak berkunjung ke sana lagi. Balik ke topik awal. Kami membeli tiket Candi Prambanan + Candi Ratu Boko dan diberitahu oleh petugas bahwa untuk menuju ke Candi Ratu Boko, kami harus menaiki shuttle bus dari tempat tunggu yang sudah ditunjukan oleh petugas.

 

Petualangan dimulai, kami masuk area Candi Prambanan dan menikmati salah satu tempat wisata bersejarah yang menurut saya wajib dikunjungi di Yogyakarta. Saya tidak akan membahas Panjang lebar tentang sejarah Candi ini karena kalian bisa cari sendiri di internet ataupun buku sejarah, puas mengelilingi area Candi dan berswatafoto ria kami langsung menuju tempat jemputan shuttle bus dan menuju Candi Ratu Boko.
Jemputan datang berupa Elf dan perjalanan selanjutnya dimulai, kurang lebih 30 menit perjalanan untuk sampai ke Candi Ratu Boko. Ini pengalaman pertama kami mengunjungi Candi Ratu Boko. Udara begitu sejuk karena dari Candi yang berada di atas bukit ini terlihat pemandangan sebagian kota Sleman.
Candi Ratu Boko (Sumber : Pribadi)

 

Rasa puas kami dapatkan setelah mengelilingi Candi di atas bukit dengan hawa sejuk, udara segar, juga pemandangan yang dapat menyegarkan pikiran. Selesai keliling Candi juga tak lupa berswapoto dan beristirahat sejenak, kami langsung bergegas kembali ke tempat penjemputan shuttle bus Prambanan – Ratu Boko.
Sampai di Prambanan kami memutuskan kembali ke Malioboro menaiki Trans Jogja 1A yang tujuanya langsung ke Malioboro, tetapi belum ada tujuan yang jelas dan yang penting jalan saja dahulu. Karena waktu masih menjelang sore dan saya iseng browsing2 tempat kuliner disekitaran Maliobor, saya memutuskan tujuan kami selanjutnya adalah gudeg Yu Djum yang katanya terkenal se-antero Yogya.
Kami semua setuju untuk memutuskan kulineran di gudeg Yu Djum, karena saat browsing di internet jaraknya dekat dengan Alun-Alun Utara Yogya yaitu berlokasi di Jl. Wijilan No. 167 Yogyakarta, sewaktu saya memasukan alamatnya di gmaps hanya 5 menit berjalan kaki. Sekilas tentang gudeg yang terkenal di Yogyakarta ini berdiri sejak tahun 1951 dengan nama pendirinya yaitu “Djuwariyah”.
Sumber : https://www.tripadvisor.com

 

Di sekitaran gudeg YU Djum juga banyak berdiri warung gudeg serupa yang berjejer disepanjang Jl. Wijilan No. 167, Berjalan kaki dari Alun-Alun Utara Yogya menuju gudeg Yu Djum tidak membosankan. Karena disekitaran jalan dan trotoar banyak bangunan klasik. Tidak seperti di Jakarta, trotoar pejalan kaki di sini tertata rapih untuk wisatawan.
Sampai di gudeg Yu Djum yang hanya berupa warung biasa, dan di dalamnya ada meja lesehan serta ruangannya tidak terlalu luas, mungkin karena ini warung cabang jadi tempatnya tidak terlalu besar tetapi, pengunjung yang datang ke tempat ini selalu ramai. Tidak menunggu lama kami memesan paket Nasi Gudeg Telur Sayap Ayam dan segelas Es The manis untuk memulihkan tenaga.
Di warung gudeg Yu Djum ada banyak paket yang bisa dipesan seperti : Paket Gudeg Nasi yang bisa makan di tempat, Paket Gudeg Besek yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh, serta Paket Kendil yakni paket gudeg dalam porsi besar. Untuk cita rasa sendiri boleh saya katan cukup membuat lidah manja mengunyah dan perut bahagia.
Sumber : https://gudegyudjumpusat.com

 

Tenaga kembali pulih dan waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, karena sekitar 1 jam lagi memasuki waktu maghrib, maka kami memutuskan berjalan santai untuk menuju Masjid Gede Kauman yang juga salah satu destinasi wisatawan saat berlibur ke Yogyakarta. Tidak lupa mampir ke toko batik disekitaran jalan untuk membeli oleh-oleh.
Jarak yang ditempuh ke Masjid Gede Kauman dari gudeg Yu Djum tidak terlalu jauh, hanya 15 menit berjalan kaki kalau melihat di gmaps tetapi dengan memotong jalan bisa memangkas waktu. Karena dalam perjalanan ini saya yang bertugas sebagai navigator, dan setidaknya yang tahu jalan karena sudah survey di internet, saya selalu mencari jalan pintas agar mengemat waktu dan tenaga, sampai di Masjid kami menuaikan salat Maghrib lalu rehat sejenak menunggu waktu isya tiba agar sampai home stay kami bisa langsung beristirahat.
Di depan Masjid Gede

 

Waktu mulai gelap, dan tak terasa kami sudah istirahat di home stay karena esok hari kami harus mengamas barang, dan perjalanan dilanjut berkunjung ke rumah keluarga saya bagian almarhum bapak di Purworejo untuk silaturahmi dengan Pak de, Bude, Le, si Mbah dan sanak saudara lainya. Lalu kembali pulang pada hari senin.
Sekian sedikit petualangan saya di Yogya, sampai bertemu dipetualangan selanjutnya 😊.

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker