Capek Itu Normal: Tentang Lelah yang Terus Dipendam

Capek itu Normal
Ada capek yang bisa diselesaikan dengan tidur,
pun ada yang hilang setelah berlibur.
Tapi ada juga capek yang enggak pergi ke mana-mana.
Ia tinggal.
Diam.
Dan pelan-pelan mengubah cara hidup kita.
Capek jenis ini enggak kelihatan bukan?
Tapi dampaknya terasa nyata.
Pada diri kita yang selalu berpura-pura bahagia.
Lelah yang Tidak Diberi Nama
Setiap hari kita bangun.
Untuk melakukan hal yang sama.
Juga menjalani peran yang sama.
Dari luar, semuanya terlihat normal.
Tapi dari dalam, ada sesuatu yang tertinggal.
Energi yang tidak kembali.
Juga semangat yang tidak utuh lagi.
Dan kita pun tetap berjalan,
dengan beban yang tidak pernah diletakkan.
Lalu anehnya,
kita tidak pernah benar-benar diajari.
Bagaimana cara mengakui.
Dunia Tidak Sabar pada Orang yang Lelah
Dunia ingin kita tetap bisa berjalan.
Tetap produktif.
Tetap responsif.
Tidak ada kolom khusus untuk manusia yang “sedang lelah”
dalam formulir kehidupan.
Jika lambat, kita dianggap malas.
Jika berhenti, kita akan terlibas.
Padahal mungkin kita hanya kehabisan tenaga.
Bukan tidak mau.
Hanya belum mampu.
Ketika Capek Menjadi Keterbatasan
Capek yang dipendam terlalu lama,
bukan lagi sekadar perasaan.
Ia berubah menjadi batas.
Sulit fokus.
Sulit memulai.
Sulit merasa cukup.
Hal-hal kecil terasa berat.
Hal-hal besar terasa mustahil.
Namun karena tidak terlihat,
capek ini selalu terabaikan.
Kita pun tetap diminta berfungsi normal,
di tubuh dan pikiran yang mulai kehilangan akal.
Bertahan Bukan Selalu Kuat
Kita sering memuja ketahanan.
Mengagungkan mereka yang terus berjalan
tanpa mengeluh.
Tapi tidak semua yang bertahan itu sehat.
Kadang, bertahan hanyalah bentuk lain dari takut berhenti.
Takut dianggap gagal.
Takut mengecewakan.
Padahal tubuh dan pikiran punya batas.
Mengabaikannya bukanlah suatu keberanian.
Melainkan sebuah penundaan.
Mengakui Capek Adalah Bentuk Kejujuran
Mengakui capek tidaklah membuat kita lemah.
Ia hanya membuat kita jujur.
Jujur bahwa hari ini kita tidak baik-baik saja.
Jujur bahwa tidak semua hal bisa kita lakukan.
Dan mungkin itu cukup.
Tidak semua lelah dan masalah harus disembuhkan hari ini.
Ia bisa terurai di kemudian hari.
Kadang, cukup diberi ruang.
Cukup diakui keberadaannya.
Capek memang tidak terlihat.
Tapi ia nyata.
Dan kita berhak mengakuinya
tanpa harus merasa bersalah.
Baca Juga Artikel Abang Dayu Lainnya:


Tulisan yang mewakili perasaan kebanyakan dari kita, ditulis dengan indah dan relate banget .
terima kasih kak, jangan sungkan bilang capek kalau lagi ada masalah dsb hihihi.
Kalimatnya jujur dan menenangkan. Kadang yang dibutuhkan cuma pengakuan kalau capek itu manusiawi, bukan kelemahan
Betul yang penting kalau capek istirahat dan jangan memaksakan sesuatu.
Membaca ini rasanya seperti diberi izin untuk menghela napas panjang. Kita sering kali terlalu sibuk “berfungsi” sampai lupa kalau mesin pun butuh istirahat, apalagi jiwa. Bagian tentang “takut berhenti karena takut dianggap gagal” itu benar-benar menampar sekaligus memeluk. Terima kasih sudah memvalidasi rasa lelah yang selama ini sering saya anggap sebagai kelemahan. Sehat selalu untuk kita semua yang sedang berjuang.
sama-sama kak, kadang kita tuh dituntut keadaan untuk selalu berpura-pura kuat, padahal mah ya, gapapa buat ngakuin kalau kita capek.
Betul juga. Ada yg tidak ngapa-ngapain tapi merasa capek. Capek karena harus berpura-pura itu lebih menjengkelkan menurut saya
capek tapi harus berpura-pura itu si yang hmmm, banyak orang yang gak sadar.
Endurance atau ketahanan tubuh dan mental adalah kunci agar mampu menjalani berbagai masalah dan persoalan dalam berbagai aktifitas hidup.
yap betul banget kak.
Wajar ya namanya manusia pasti ada masa lemahnya. Berhenti sejenak untuk mengistirahatkan diri gak papa kok. Supaya kembali dengan semangat baru.
sangat wajar kak
Terkadang alasan memendam rasa capek karena khawatir dianggap pemalas. Padahal capek adalah hal manusiawi. Ibarat mesin, tubuh juga butub istirahat. Tidak mau mengakui capek malah lama-lama bisa menggerogoti kesehatan fisik dan mental/
malah bisa jadi bahaya kak, kalau terus pura-pura untuk kuat padahal capek.
Kadang capek itu memang satu kata saja CAPEK. Tapi rupa-rupanya bisa sangat banyak.
Capek hati, capek pikiran, capek fisik, capek finansial dan rupa capek lain.
Dan …
begitulah capek dikenal. Cuma satu kata, tapi bermacam rupa.
Yuk, kita bisa semangat lagi. Setelah si capek pergi.. 😀
capek itu bisa kemana-mana yaa haha
Akuuuu mengawali 2026 dengan rasa capek yang merupakan akumulasi dari tahun2 sebelumnya 😀
Jujur problem2 yang menumpuk dan belum selesai bikin nggak fokus. Tapi emang gimana lagi, katanya dunia tempatnya capek dan kudu dijalani. Kalau nggak punya iman mungkin udah kek org2 korea lompat dari jembatan keknya hahaha.
Ngaku capek emang sebaiknya ke Tuhan aja, jangan ke manusia, katanya sih kalau nyerahnya ke Tuhan,Dia akan bantu, walau kadang berasa agak berat dan lama.
yang penting kita bisa melepas rasa capek dengan cara yang tepat
sebagai perempuan sebagai ibu capek itu seperti kata keramat diucapkan padahal itu manusiawi untuk diucapkan Dan diketahui semua orang, buka n berati mengeluh tapi agar orang di sekitar menyadari perempuan juga manusiawi lelah dengan rutinitas hariannya
perempuan atau laki-laki berhak mengakui rasa capek, yang penting kita bisa mengatasinya dengan cara yang tepat.